Senin, 24 Maret 2014

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL DAN BUDAYA

ü  Manusia sebagai Makhluk Sosial (Homo socius) 
Dalam menjalani kehidupan, manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain.  Lihatlah diri kalian. Dapatkah kalian hidup tanpa orang lain? Tentu tidak. Di rumah kalian membutuhkan ayah, ibu, saudara, dan tetangga, sementara di sekolah kalian perlu berinteraksi dengan bapak/ibu guru, karyawan, dan teman-teman di sekolah. Kalian membutuhkan ayah dan ibu untuk membimbing, melindungi, dan membiayai hidup kalian. Kalian membutuhkan bapak/ibu guru untuk membantu kalian menuntut ilmu. 

Kalian membutuhkan saudara dan teman untuk bercanda dan bermain bersama. Ayah, ibu, bapak/ibu guru, dan teman-teman kalian pun membutuhkan kalian. Bayangkan kalau kalian tidak didampingi ayah, ibu, dan orang lain! Tentu hidup kalian akan terasa sepi dan tidak berarti. Demikian pula yang dirasakan setiap manusia apabila mereka hidup sendiri. Pendek kata, setiap orang memiliki kebutuhan untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya karena ia bagian dari anggota masyarakat. Manusia sebagai bagian dari anggota masyarakat inilah yang dimaksud dengan manusia sebagai makhluk sosial (homo socius). Jadi, Manusia sebagai makhluk sosial (homo socius) manusia merupakan bagian dari anggota masyarakat yang harus selalu bersimpati satu sama lain, terutama untuk menciptakan masyarakat yang harmonis

Info Untukmu!
Moralitas yang baik merupakan sifat yang harus dimiliki dalam pembangunan. Pertumbuhan ekonomi negara tidak akan cepat bila digerogoti oleh orang-orang yang tidak bermoral. Ada juga kemungkinan, ekonomi suatu bangsa bukannya berkembang, melainkan ambruk oleh tangan-tangan yang tidak bermoral.

Dalam kedudukannya sebagai makhluk sosial, manusia akan banyak melakukan kegiatan/tindakan sosial. Seperti apa yang dimaksud dengan tindakan sosial? Simaklah beberapa contoh berikut ini.

Manusia sebagai Makhluk Sosial (Homo socius)
1.      Pak Agus tinggal di RT 5. Untuk menjaga keamanan lingkungan RT ini, setiap malam diadakan kegiatan ronda secara bergiliran. Bersama kelompoknya, Pak Agus mendapat giliran ronda setiap malam Jumat. Ia selalu menyempatkan diri untuk datang meskipun sebenarnya ia merasa lelah setelah seharian bekerja keras. Dengan datang ke pos ronda, selain telah melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungannya, Pak Agus juga merasa kebutuhannya untuk bersosialisasi dengan tetangga terpenuhi.
2.      Bu Dina membutuhkan transfusi darah untuk operasi. Persediaan darah di PMI yang sesuai dengan golongan darahnya ternyata menipis. Karena Pak Minto memiliki golongan darah yang sama dengan golongan darah Bu Dina dan Pak Minto dalam kondisi sehat, ia mau menyumbangkan darahnya untuk keperluan operasi Bu Dina meskipun sebenarnya ia takut pada jarum suntik. Dengan menyumbangkan darahnya, Pak Minto telah menolong orang lain  dan ia pun merasa berguna bagi orang lain.
3.      Rina diundang ke pesta ulang tahun Shella sahabatnya. Ia sebenarnya tidak begitu suka pesta. Namun, karena ia tahu Shella akan senang bila ia datang, Rina pun pergi ke pesta ulang tahun Shella. Ternyata, membuat sahabat senang merupakan kebahagiaan bagi Rina.

Gambar. Berbagai kebutuhan Manusia

Tindakan Pak Agus datang ronda, Pak Minto menyumbang darah untuk operasi Bu Dina, dan Rina yang menghadiri pesta ulang tahun Shella merupakan contoh tindakan sosial. Dari contoh-contoh ini dapat disimpulkan bahwa  tindakan sosial merupakan segala tindakan yang dilakukan manusia sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan orang lain. Dalam melakukan tindakan sosial, manusia harus selalu mengutamakan kepentingan orang lain lebih dari kepentingannya sendiri dengan menekankan simpati sebagai dasar pentingnya pengendalian diri. Dengan bahasa yang lebih sederhana, setiap orang harus selalu tolong-menolong karena tidak ada seorang pun yang dapat hidup tanpa orang lain. Manusia sebagai Makhluk Sosial (Homo socius)

ü  Manusia sebagai Makhluk yang Berbudaya
Manusia disebut sebagai makhluk yang berbudaya tidak lain adalah makhluk yang senantiasa mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, karena yang membahagiakan hidup manusia itu hakikatnya sesuatu yang baik, benar dan adil, maka hanya manusia yang selalu berusaha menciptakan kebaikan, kebenaran dan keadilan sajalah yang berhak menyandang gelar manusia berbudaya.
Budaya adalah suatu pola dari asumsi-asumsi dasar (keyakinan dan harapan) yang ditemukan ataupun dikembangkan oleh suatu kelompok tertentu dari organisasi, dan kemudian menjadi acuan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan adaptasi keluar dan integrasi internal, dan karena dalam kurun waktu tertentu telah berjalan atau bekerja dengan baik, maka dipandang sah, akhirnya kebudayaan dibakukan bahwa setiap anggota organisasi harus menerimanya sebagai cara yang tepat dalam pendekatan pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan dalam organisasi.
Sedangkan kebudayaan yaitu sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Kata budaya atau kebudayaan itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Pengaruh manusia dan kebudayaannya dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, dan setelah kebudayaan tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Tampak bahwa keduanya akhirnya merupakan satu kesatuan. 
Budaya yang dikembangkan oleh manusia akan berimplikasi pada lingkungan tempat kebudayaan itu berkembang. Suatu kebudayaan memancarkan suatu ciri khas dari masyarakatnya yang tampak dari luar. Dengan menganalisis pengaruh akibat budaya terhadap lingkungan seseorang dapat mengetahui, mengapa di sebuah lingkungan tertentu akan berbeda kebiasaanya dengan lingkungan lainnya dan mengasilkan kebudayaan yang berbeda pula. 

OPINI :

            Manusia termasuk makhluk ciptaan tuhan Yang Maha Esa, yang masih membutuhkan satu dengan yang lainnya. Maka dari itu manusia itu sendiri harus mampu bersosialisasi dengan masyarakat sekitar supaya hidup bermasyarakat yang harmonis dan tidak pasif dilingkungan masyarakat tersebut. Di dalam berbudaya manusia mempunyai kepribadian budayanya masing – masing maka dari itu kita harus saling menghargai kebudayaan manusia itu sendiri supaya kita bisa berteman dengan baik dan bersosialisasi didalam kebudayaan tersebut.

Sumber : 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar